Beli saat turun, jual saat naik

Kemarin (13 desember) saya nganterin pacar tercinta @rahmahamalyah untuk ikut seminar KDFA by pak john veter. saya cuma nganterin, ga ikutan karena ya secara saya kan penganut TA. dan doi adalah jagoan FA.

Denger penjelasan how to trading using fundamental analysis emang menggoda. analisa nya base on laporan keuangan. value intrisik. dan margin of safety sebagai kriteria. caranya ga susah kok, masukin data nilai x, y , z nanti dapat angka bla bla bla, yang mahal itu mindset mereka. cara melihat pergerakan harga juga berbeda dengan trader. beli saat turun, jual saat naik. batasan mindset mereka itu adalah nilai’ perusahaan.

Kalau trader selalu punya argumen market discounted everything, kalo harga si emiten ‘fundamental ‘ akan bergerak naik, nyaris pasti akan di notice sama trader kok. lah kan mesti indikatornya nunjukin sesuatu yang menarik mereka buat analisis. Keduanya benar selama cuan. ga ada yang salah.

Yang menarik adalah ada satu hal yang saya pahami selama ini ternyata salah. yaitu pendapat saya yang mengasumsikan bahwa investor selalu mencari saham ‘puntung rokok’ atau saham saham yang terlupakan, nah ternyata itu kurang tepat. kata john veter waren buffet aja ga gitu gitu amat kok. emiten yang di incar ga terbatas di saham yang puntung rokok. emiten yang dicari investor adalah emiten yang terdiskon dari nilai aslinya. titik. ga musti saham gocapan juga yang dicari. bukan juga saham yang harganya tidur terus terusan. contohnya saham terdiskon di IHSG ada BMRI atau BBRI yang masih terdiskon sekitar 30% dari nilainya.

Tapi saya tetep istiqomah sebagai swing trader. hehe. mungkin karena saya moderate-agresif (baca : malas analisis lap. keuangan) jadi saya tetap milih jadi trader aja.

Bagian selanjutnya dari tulisan ini adalah membahas asumsi pergerakan market hingga awal tahun depan. ada alasan alasan baik teknikal maupun secara sudut pandang makro ekonomi yang pada kesimpulannya bulan desember ini akan cukup menentukan pada pergerakan IHSG diawal tahun depan ( ini hasil nanya-nanya ke pak hans kwee dan jhn veter ). selain itu juga ada alasan mengapa koreksi DOW JONES di jumat kemarin bisa dilihat sebagai kesempatan akumulasi. aslinya saya sudah tulis sampai panjang ke bawah. Sayangnya tulisan panjang lebar itu ngilang, draft nya ga ke save ama si wordpress. siaul bener. saya males lah nulis ulang. dibawah ini chart chart yang bisa di analisa sendiri ya.

DOW JONES INDUSTRIAL AVERAGE

Dibawah ini IHSG Daily dan Weekly. kalau swing, kita perlu perhatikan bentuk candle weekly untuk minggu depan. chart daily IHSG yang tidak menyentuh ret 100% (5100) sebelum kembali rebound bisa menjadi sentimen bagus, namun reboundnya masih nanggung.  seminggu kedepan cukup menentukan.

IHSG Weekly . MACD golden cross. Stochastic ada di nilai 70an.

Udah ya, jadi ga keren gini tulisan ini. padahal tadi udah jadi ulasan panjang lebar lah. pokoknya si walaupun hanya menggunakan chart  diatas bisa kita manfaatkan sebagai analisa psikologi massa saat ini. sehingga dapat dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan.  yang kawatir soal koreksi DOW JONES. tenang aja. hingga saat ini belum ada tanda tanda capital outflow. selama chart belum menunjukan hal itu, berarti crash / koreksi besar masih menjadi asumsi. lalu hal hal seperti persiapan window dressing dan laporan kinerja manajer investasi diakhir tahun bisa dijadikan juga perlu dipertimbangkan.

2 Comments

  1. FA ya…
    sejak belajar main saham saya sudah ngga tertarik sama FA. Entah kenapa. Maksud saya sbg MI untuk keluarga, saya ga mau lah menaruh duit besar di saham. Saham terlalu volatil (bahkan bluechip sekalipun), saya hanya main 10% tabungan aja. 90% tetap dlm bentuk prop, RDS, LM daaan…deposito! hehehe konvensional emang. Bisa dijitak suami kalo saya naruh uang masuk sekolah dengan nyicil ITMG (apalgi klo sampe avg down pas market koreksi).

    Makanya FA ini ga nyantol, kalo mau nyicil masuk tuh nyicil RD. Mungkin kurang agresif, tapi mininimal setoran kita ga ilang (ga tergerus loss). yakinkah bahwa kita bisa ngelola dana main saham dgn imbal lebih besar dari RD?

    Halah itu cuma visi dari saya sbg ibu2. Hehehe. Alasan utama saya ikut TA hanyalah saya percaya ada market maker, market maker tdk liat FA. Terserah market maker, mau dinaikin apa diturunin…kita enjoying the ride aja. Toh mahal, murah, menariknya saham itu subjektif.

    • iya, jadi pacar kebagian analis FA, aku yang bagian TA, 🙂
      bener mbak, walaupun valuasi terdiskon, harga naik / turun ya terserah market maker. banyak bgt contohnya saham yang seperti itu, banyak aja juga yang nyangkut karena berpegangan akan hal ini tapi…….tapi itu view-nya trader.

      karena beda mindset, investor yang pake FA cara pandangnya berbeda. mereka invest jangka panjaaaaaanggg, selain kenaikan harga saham, bonusnya adalah deviden, pegangan mereka value bukan harga. beda mindset ini signifikan banget, dampaknya ke cara pandang terhadap sesuatu, cara melihat uang, strategi mereka, hingga mentalitas MEREKA MELIHAT PORTO MERAH dst dst dst… panjang deh 🙂

      yang keliru biasanya adalah mental dan mindset trader tapi invest atas dasar FA, akhirnya terpaksa jadi investor dadakan deh walaupun ga ikhlas.

      soal prinsip investasi, saya agak moderate-agresif, walaupun saat ini baru 10% capital saya taruh disaham tapi rencananya sekitar 30%-40% akan saya taruh di saham. sisany di RD Saham. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2018 a Trend Trader

Theme by Anders NorenUp ↑