accumulated advantage

Mengutip paper ‘Hyperdominance in the Amazonian Tree Flora’, menyimpulkan bahwa “… Amazonia harbors 3.9 × 10ˆ11 trees and ~16,000 tree species. We found 227 “hyperdominant” species (1.4% of the total) to be so common that together they account for half of all trees in Amazonia, whereas the rarest 11,000 species account for just 0.12% of trees. “.

Jadi meskipun tingkat keragaman yang luar biasa di hutan amazon (~16,000 tree species), para peneliti menemukan bahwa ada sekitar 227 spesies pohon “hyperdominant” yang membentuk hampir setengah dari hutan amazon. yaitu hanya 1,4 persen dari total spesies spesies pohon mewakili kurang lebih 50 persen pohon di Amazon (3.9 × 10ˆ11 pohon).

bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Bayangkan dua tanaman tumbuh berdampingan. dimana setiap hari  akan bersaing untuk mendapatkan sinar matahari dan area tanah. Jika satu tanaman bisa tumbuh sedikit lebih cepat daripada yang lain, maka ia bisa meregang lebih tinggi, menangkap lebih banyak sinar matahari, dan menyerap lebih banyak hujan. Keesokan harinya, karena doi sudah lebih besar akibat tumbuh sedikit lebih cepat. maka memungkinkan tanaman untuk tumbuh ‘lebih’ dari pesaingnya. Pola ini berlanjut sampai tanaman yang lebih kuat memonopoli jatah sinar matahari, tanah, dan nutrisi.

dengan posisi yang lebih menguntungkan, pohon yang terlanjur mendominasi memiliki peluang dan kemampuan yang lebih baik untuk menyebarkan benih dan bereproduksi, dengan kata lain memiliki peluang lebih besar untuk tersebar lebih banyak pada generasi berikutnya. Proses ini berulang lagi dan lagi sampai mendominasi seluruh hutan.

apa yang terjadi dalam uraian diatas dikenal sebagai Matthew effect of accumulated advantage. intinya edge kecil yang lambat lambat laun menjadi edge yang besar..

narasi soal accumulated advantage biasanya membahas kenapa si miskin makin miskin, si kayak makin kaya. ya karena seiring waktu si kaya memiliki edge atau advantage yang signifikan, persaingan antara si miskin dan si kayak semakin tidak seimbang. dan seterus nya dan seterusnya.. thats why winners keep winning.

accumulated advantage berupa edge bisa apa saja, modal, aksesbilitas, sarana prasarana atau status. belum lama saya membaca bahwa The Cuckoo’s Calling karya Robert Galbraith penjualannya naik lebih dari 150.000% lantas menempati buku paling laris no  3 Amazon.com setelah para fans Harry Potter tau bahwa Robert Galbraith  = J.K. Rowling. coba saja identitasnya ga ketauan, mungkin buku itu masih di peringkat 4.709 daftar penjualan. ini adalah contoh accumulated advantage

accumulated advantage in trading

lantas, apa ada Matthew effect dalam dunia trading? apakah jika kita lebih dahulu terjun ke dunia saham atau memiliki modal lebih banyak maka kita punya peluang untuk cuan persentasenya menjadi lebih tinggi? atau kita pakai komputer lebih canggih, atau mungkin afl lebih kompleks bisa member peluang untuk cuan persentasenya menjadi lebih tinggi?

in my humble opinion, jika anda individual investor / trader. rasanya accumulated advantage tidak berlaku dalam trading.

saya sudah 3 tahun di market, saya mungkin punya knowledge lebih dalam menganalisa ‘mood market‘ dengan memperhatikan sentimen eksternal. tapi apakah dengan hal tersebut membuat saya punya peluang untuk cuan persentasenya menjadi lebih tinggi? rasanya tidak.

modal newbie biasanya kisaran 10 – 50jt. apakah individual investor / trader yang punya modal lebih banyak punya peluang untuk cuan persentasenya menjadi lebih tinggi? rasanya tidak.

peralatan maupun afl yang kompleks sama aja. dalam trading, lapangan pertandingan di saham itu tiap hari berubah. tidak seorang pun bisa mengetahui market atau harga mau kemana. pekerjaan menebak arah harga cuma memuaskan ego.

Experience does not equal skill. All it means is you have been doing it longer, not that you have been doing it better.

so, sorry to say.. modal xy tahun di market ga membuat anda jadi bisa nebak besok market mau kemana.

bagaimana dengan kemampuan doing nothing? atau memilih tidak terjun ke market karena volatility sedang tidak bersahabat, apakah hal tersebut memberi peluang untuk cuan persentasenya menjadi lebih tinggi? rasanya tidak.

doing nothing disaat punya posisi open dan let your plan working is not giving you better chance to win. market goes wherever she want, and no body knows where. doing nothing cuma memastikan anda ga mensabotase trading plan.

bagaimana dengan stay on the sideline? tidak berpartisipasi karena market sedang volatile itu hubungannya dengan risk. bukan dengan cuan.

doing nothing does not make you jesse livermore atau bahkan warrent buffet. 

tapi kan dengan pengalaman lebih kita punya jam terbang lebih banyak, jadi punya edge dong?? engga. practice atau repetisi itu makes habit. does not make perfect. kalo mau bawa-bawa jam terbang, yang bener itu perfect practice makes perfect… tapi apa coba perfect practice / perfect execution dalam trading?

oke deh. katakan lah kita trader yang konsisten mencatatan dan mengevaluasi trades journal, kita berusaha untuk menjadi trader lebih baik. lebih sabar, lebih menguasai psikologi, punya sistem dan lain lain… we maybe become better trader but being better wont make us high-probability-trader, ga ada hubungannya sama probability bakal cuan ato engga.

belajar dari pengalaman, menjadi trader yang lebih baik itu lebih ke arah kemampuan mengurangi atau membatasi resiko, kalo soal probability to win, masih sama aja. karena market ga ada yang tau mau kemana.

so become high-probability-trader does not correlate with the amount of time spent learning to do it or even actually doing it. experience mungkin membuat anda lebih baik. tapi hal tersebut tidak ekivalen dengan punya peluang cuan lebih tinggi.

lagi pula, selalu ada seseorang di dunia melakukan hal-hal yang lebih baik, lebih cepat, lebih tepat daripada kita, seseorang yang telah memulai jauh lebih awal. punya pendidikan lebih baik, punya sarana dan prasana lebih canggih. tidak berarti kita harus minder.

ngomong-ngomong soal practice dan skill. tahun 2015 saya pernah nulis bahwa recognition is the mother of all skill. silahkan dibaca, di tulisan itu saya memberi statement bahwa kalo mau jago di saham itu harus punya kemampuan merecognisi yang baik. karena trading is intuition play and expert intuition came from recognition.

jadi, dengan market yang memiliki uncertainty ga ketulungan, kita memang dituntut selalu mindfull setiap kita mengambil keputusan. dan rasanya sulit sekali untuk flawless . makanya mindset dalam trading itu over time yang penting akumulasi cuan lebih tinggi dari pada akumulasi rugi.

oiya, dalam perspektif accumulated advantage,  jika anda ingin punya edge untuk bersaing lebih baik. maka dikenal The 1 Percent Rule. intinya Anda hanya perlu sedikit lebih baik daripada pesaing Anda, tetapi jika Anda mampu mempertahankan sedikit keunggulan hari ini dan besok dan lusa, maka Anda dapat mengulangi proses menang hanya dengan akumulasi sedikit keunggulan… sayangnya saya rasa hal tersebut tidak berlaku dalam trading.

bagaimana? sepakat? silahkan tinggalkan pesan pada kolom komentar dibawah.