What follows an optimal position size

Posted on Posted in stockactivist

Sebelum menjawab apa dampak dari positioning size yang optimal, kita bahas dulu apa yang mempengaruhi positioning size atau apa saja yang harus di perhatikan saat menentukan size di setiap posisi beli.

  1. Risk limit, batas risiko yang bisa berupa persentase atau nilai tertentu dari modal anda yang dialokasikan sebagai potensi loss maksimal. contoh 1% capital atau 1juta. maka untuk setiap posisi yang saya ambil di market, maksimum resiko yang akan saya terima adalah loss 1% capital atau 1juta.
  2. Angka stop loss, angka ini akan menjadi jaring pengaman, jika harga menembus nilai stoploss maka langkah yang diambil adalah exit dari posisi. stoploss bisa saja nilai tetap atau dinamis. namun dibanyak tulisan stoploss sebaiknya nilai dinamis yang jika di tembus akan mengkonfirmasi perubahan trend.

Untuk menentukan jumlah lot yang dibeli hanya memerlukan 2 variabel diatas, ga ribet dan ga susah. yang susah itu menentukan nilai profit taking yang optimal. walau kita tau teorinya profit taking itu sebaiknya diatas 1R agar dalam jangka panjang kita selamet alias secara agregasi tetap cuan.

Kira kira apa dampak dari sizing yang tidak proper? jawabannya ketidakseimbangan.

Contohnya. saat sistem menghitung 2 variabel diatas dan meresikokan 25 poin (angka stoploss), itu artinya jika benar turun 25 point, kita akan loss 1jt (risk limit), maka saat return nya 100 poin atau 4R, seharusnya returnnya adalah 4jt. namun jika anda tidak membeli jumlah lot sesuai hitungan yang menggunakan dua variabel diatas, maka akan ada ketidakseimbangan resiko dan return, alias returnnya bukan 4juta walaupun secara rasio R angka return tetap 4R. lebih detail bisa dibaca tulisan saya tentang undersize di WSKT.

3 dari 5 tulisan terakhir di web ini tentang dampak dari undersize,  tadinya saya pikir setelah menerapkan a proper positioning size dunia bakal aman tentram dan damai, ga ada serangan dari negara api.. hehe

Ternyata impact melakukan positioning yang baik pun ga sembarangan, minggu lalu total beli-jual saham saya sampai 17 saham.  tujuh belass! ngaku trend trader jual beli sampe tujuh belass! bisa jadi kesayangan broker saya.

Apa hubungannya membeli saham sesuai rekomendasi sistem dan jumlah jual-beli saham? hubungannya di modal.

Di sistem capt.jack, maksimum resiko yang dialokasikan adalah 0,5% capital. cuma nol koma lima. walaupun angkanya terlihat kecil jika dikombinasi dengan stoploss yang sesuai previous higher low, jumlah lot yang kudu di beli juga ga sedikit. dalam perhitungan saya, rerata proprosi alokasi di setiap posisi adalah 8% capital. maka maksimum jumlah saham di portfolio adalah 12 saham atau setara dengan 8×12 = 96% capital.

Dan sepanjang minggu lalu, utilitas modal di portfolio nyaris selalu 100 persen. maka saat ada saham baru yang punya setup menarik, dengan terpaksa kita mengorbankan saham di portfolio yang pergerakannya kalah menarik cth. kosolidasi, atau nyari-nyari dekat support

Jadi apa dampak melakukan positioning size yang optimal?

AKIBAT modal yang menipis karena sizing yang proper, dan DEMI saham yang memiliki setup lebih menarik, TERKADANG kita suka mencari-cari alasan untuk menjual saham yang ada di portfolio.

Itulah mengapa minggu lalu turnover di portofolio saya sampai 17 saham!

Itulah mengapa SRIL, INAF, ELSA, BUMI, BRPT, HRUM, ITMG saya jual, yup. penjualan yang dilakukan tanpa dasar yang tepat. selain takut dengan situasi market yang drifting lower. saya juga butuh modal untuk beli yang lain. padahal harga saham tersebut kan masih disitu-situ aja, nembus support pun tidak.

F to the U to the K

Kira-kira apa solusinya?

Saat ini saya punya beberapa ide, seperti menggunakan dynamic risk limit. jadi tidak semua harus 1% atau 2% capital. atau memang fokus di saham-saham pada kuadran leading.

Anda punya ide?

Silahkan tulis di kolom komen ya. saya akan sangat mengapresiasi masukan anda

Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *