it’s you the problem

it’s you the problem

seeking similarity

di riwayatkan seorang ayah yang penasaran tentang pertemanan anaknya yang berumur 3 tahun, maka diam-diam dia mencuri dengar saat mereka bersepeda gandeng bersama. berikut adalah percakapan si anak (a) dan temannya (b).

 a: aku suka ice cream
b: aku juga suka ice cream
a: aku suka bluberry
b: hmm.. aku juga,,
a: aku suka es krim coklat
b: aku juga suka es krim coklat..

i know.. just wait for it..

b: eh, aku suka anjing, karena aku punya anjing.. 

sang ayah yang mendengar percakapan ini penasaran akan respon anaknya, karena dia tau anaknya sangat takut dengan anjing. di luar dugaan, anaknya merespon..

a: aku juga suka hewan peliharaan, aku punya kodok, aku suka kodok ku.

rupanya si anak secara otomatis mengganti substansi diskusi soal ‘anjing’ menjadi -> hewan peliharaan. lalu temannya kembali berbicara

 b: aku ga suka pizza
a: aku juga ga suka pizza
b: aku ga suka burberry
a: … aku mulai sekarang jadi ga suka burberry..

see what happen?

point dari diskusi diatas adalah adalah satu mekanisme menarik soal pertemanan. we tend to seeking similarity, untuk membangun hubungan emosional pertemanan.. notice saat teman menyebut anjing, system 1 lawan bicaranya berusaha relevan dengan bergeser ke tema hewan peliharaan, karena doi ga suka anjing,

lantas saat temannya menyatakan ia tidak suka burberry,.. si anak memilihi ‘membela’ hal tersebut dengan memilihi mulai saat ini ia akan tidak suka burberry.. semua demi membangun hubungan emosional pertemanan. tentu jangan pikir si anak ini picik. ini naluriah doi, kamu dan kita semua. we tend to do this. demi membangun hubungan emosional pertemanan. demi acknowledgment. demi acceptability. bahkan demi agar tidak dibully pun tanpa disadari kita melalukan hal diatas.

cerita diatas adalah intro ep. 4 dr podcast hidden brain, silahkan di dengarkan.

psikologi trading

jika kamu seorang trader, tentu kamu akan menemui salah satu dogma di dunia investasi yaitu psikologi trading. psikologi trading dikaitkan dengan masalah penguasaan emosi, suka membiarkan rugi menjadi besar tak terkendali, suka buru-buru keluar sehingga cuma dapat profit kecil, atau suka panik saat trading, jika kamu melakukan hal tersebut, biasanya nasihat para sifu adalah kamu memperbaiki psikologi trading.

kata ‘harus belajar psikologi’ trading ini mungkin agak halu, agar lebih mudah di pahami, buat saya yang dimaksud psikologi trading adalah sekumpulan mindset sebaiknya di miliki seorang trader, kalo mindsetmu sudah benar, niscaya prilaku mu mengikuti. tidak patuh mengikuti trading sistem misalnya, obatnya adalah mindset you are not special, you are not smarter than the market, so follow the rules! atau yang kira-kira bisa mengobati akutnya kita suka melanggar trading sistem.

jadi kalau ada yang menasehati kamu harus memperbaiki psikologi trading mu, jangan bingung, yang doi maksud ada mindset yang perlu kamu pelajari. biar emosi mu tidak terombang ambil saat let profit run misalnya, kamu harus percaya luar dalam bahwa it’s not about the frequency of winning, its about the magnitude when you are win. dst dst.

tapi ada hal penting yang saya rasa tidak pernah disinggung, selain psikologi trading a.k.a mindset, kadang kamu, kita, saya, dan mereka ga cuan-cuan, atau tidak bisa berevoluasi dari good to great itu adalah masalah mentalitas. apa beda mindset dan mentalitas?

'mindset' is an attitude and 'mentality' is a way of thinking. Mentality is more fixed, but a mindset could change.

untuk sukses tidak hanya mindset yang diperlukan, mentalitas mu juga harus mendukung, mentalitas rang-rang sukses itu mirip-mirip, tidak mudah alias pantang menyerah, selalu mencoba sebaik-baiknya, bijak dan ga silau terhadap uang atau kesuksesan, growth mindset, selalu lapar untuk belajar dan menjadi lebih baik. dan seterus dan seterusnya,, pkoknya dah kek pelajaran ppkn.

jadi kalo mental inlander mu masi nempel kek panu, masi suka protes kok ada grup premium,yang narik setoran mahal padahal seharusnya jika dia sudah cuan kenapa dia perlu jualan stockpick atau seminar dll. kalau kamu mendapati dirimu mempermasalahkan hal tersebut, mungkin itu hanya pengalihan isu karena otakmu ga mampu mengakui kamu ga cuan-cuan atau tidak sesuai ekspektasimu.

atau masi suka protes pendekatan trading / investasi orang lain, kalau kamu mendapati dirimu masih begitu coba berkaca dan merenung kenapa kok kamu napsu membuang waktumu untuk hal-hal tersebut, coba pelajari hal apa yang disembunyikan otakmu, ntr pasti nemu, karena kalau kamu memang bermindset dan bermental rang sukses, waktumu terlalu precious untuk dibuang-buang ke hal remeh temeh begitu. cuma braingsm doang itu, napsu otak lu.

balik lagi ke tema pertama, seeking similarity, karena salah satu efek samping upaya kita dalam aktualisasi diri adalah ketidaksadaran kita mengamini hal-hal yang belum tentu bermindset / bermental sesuaii tujuan kita. maka hati hati dalam memilih teman atau komunitas.

jangan karena si a menyerang si b, dan karena kamu anggap si a analisanya keren terus kamu ikut2an nyerang si b, you know lah kemana arahnya ini. ini pesan aja, jangan buang-buang waktumu, wong kita ga buang-buang waktu aja belum tentu sukses kok.

about mentality, analisa saya si kita semua memiliki jiwa kompetisi yang tinggi. so mari arahkan energi mu untuk hal yang baik baik. bring positifity.

semoga bermanfaat.

Leave a Comment