Page 2 of 45

how to BFTD

tulisan saya perkara overtrading kemarin ternyata lumayan ‘rame’, hal itu membuat saya sadar saya pernah nulis bagaimana cara memprioritaskan potensi trading, agar tidak overtrading. ada 7 opsi yang bisa dijadikan pedoman dalam menentukan skala prioritas daftar watchlist. silahkan dibaca

jika ada panduan bagaimana cara menentukan skala prioritas potensi trade, bagaimana dengan pedoman buy on weakness atau cara membeli saat terjadi pelemahan harga di saham-saham incaran kita? this is another on million dollar question.

untungnya sama seperti dalam artikel bagaimana cara memprioritaskan potensi trading, agar tidak overtrading dimana saya mengutip reply twitter dari pertanyaan yang diajukan oleh peter robbins.. kali ini doi kembali mengemukakan pertanyaan ciamik terkait isu yang menjadi topik di artikel ini, bagaimana cara buy on weakness. 

Peter bertanya di linimasanya ‘bagaimana membedakan koreksi yang layak beli dan koreksi yang harus dihindari?’

untuk tweet pertanyaan diatas sedikitnya ada 79 reply yang masuk, dibawah ini merupakan beberapa jawaban / reply yang menurut saya bisa kita jadikan pedoman bagaimana memilih atau melakukan buy on weakness yang lebih baik.

Continue reading

o·ver·trade

Jika anda perhatikan minggu lalu candle weekly IHSG naik sekitar 2.8% dan minggu ini di tutup -2.9%. maka rasanya kita bisa sepakat 2 minggu ini market sedang sideways. jadi jangan heboh soal ekonomi atau rupiah yang terus-terusan melemah dulu, apalagi sampai komen musti ganti presiden.. lebay.

sejak minggu lalu, underlying mood di market menurut saya memang agak berubah. terutama tanggal 9 dan 10 mei, dimana dua hari tersebut terjadi akumulasi hingga 1.5x rata-rata 20hari. di tanggal 10 market bahkan sempat menembus resisten 6015 yang menurut saya jika harga di tutup di atas nilai tersebut, kita boleh curiga market mau berhenti koreksi. eh ternyata gagal.

market saat ini ada range projection 127 dari dua titik tarikan fibo yang berbeda, yaitu 6006 dan 5755.

jadi sebelum ribut-ribut soal ekonomi, rupiah apalagi politik. selama harga masih berkutat di area diatas, maka faktanya harga masih sideways. akan kemanakah harga ihsg? ga ada yang tau. jangan percaya dukun-dukun di grup. apalagi modal katanya atau feeling, satu catatan penting jika anda membaca analisa makro ekonomi, khususnya yang menghubungkan satu aset dengan yang lain, selalu ingat bahwa Correlation does not imply causation. go google it.

Continue reading

No, you don’t have an edge

Pernah dengar apa yang disebut trading edge? dibanyak buku dan tulisan, disebutkan bahwa seorang trader harus memiliki edge untuk dapat sukses mengarungi dunia saham. edge sederhananya adalah keunggulan. bisa metode, teknik, keterampilan, sifat,  atau apapun itu yang membuat anda punya positif expectancy.

apa itu expectancy?

Expectancy gives you the average R-value that you can expect from a system over many trades. Put another way, expectancy tells you how much you can expect to make on the average, per dollar risked, over a number of trades.

intinya, rata-rata return yang diharapkan dari setiap rupiah resiko yang kita alokasikan, atau rata-rata untung atau rugi yang diharapkan berdasarkan data trade kita.

contoh: jika expectancy anda adalah 1R. maka setiap 1 rupiah yang diresikokan untuk saham yang anda beli, anda punya potensi return 1 rupiah. dan jika expectancy anda negatif, misalnya -0,5R, maka setiap 1 rupiah yang di resikokan, berdasarkan rata-rata return yang menjadi data dasar, anda punya potensi mendapat rugi 0,5 rupiah.

jadi sebelum menjawab apakan kita punya edge atau tidak, kita harus tau apakah kita punya expectancy positif atau negatif.

jadi pertanyaannya sekarang, bagaimana mengetahui apakah anda punya positif / negatif expectancy? untuk mengetahui hal tersebut, anda butuh beberapa data, misalkan kita ingin tahu berapa expectancy saya sejak bulan januari 2018.

  • data pertama yang dibutuhkan adalah jumlah trade anda sejak januari 2018.
  • lalu pisahkan berapa kali yang cuan, berapa kali yang rugi
  • hitung berapa persen yang cuan,
  • hitung berapa persen yang rugi.
  • hitung berapa rata-rata nilai cuan dari seluruh trade yang untung
  • hitung berapa rata-rata nilai kerugian dari seluruh trade yang rugi

lalu hitung dengan rumus : Expectancy = (Probability of Win * Average Win) – (Probability of Loss * Average Loss)

jika hasil perhitungan positif, maka anda punya positif expectancy = punya edge, atau return positif dari trades anda sejak januari 2018,

jika positif anda boleh berharap akan cuan terus selama tidak mengubah metode / pendekatan trading, karena berdasarkan dari sampel data januari – april (misalnya 300 trade) , menunjukan dari setiap 1 rupiah yang di resikokan di 300 trade, jika diakumulasi banyakan nilai rupiah untung. jadi secara overall anda untung. (walaupun ada yang rugi ada yang untung)

dan jika hasilnya negatif, berarti akumulasi nilai kerugian lebih tinggi dari nilai cuan.

jika anda memahami penjelasan saya dari awal artikel, anda akan memahami bahwa hubungan edge dengan expectancy sangat erat, bahwa klaim anda punya edge harus dibuktikan dengan positive expectancy.

dan positive expectancy sangat berhubungan dengan metode / pendekatan trading. namun jangan disimpulkan bahwa jika hasil perhitungan expectancy hasilnya negatif maka anda harus mengubah metode / pendekatan trading. kesimpulan ini tidak tepat. 

karena bisa saja metode anda memiliki positive expectancy, cuma anda aja yang ga disiplin, jadi yang perlu diubah adalah kedisiplinan mengikuti trading plan. dst.

so in my humble opinion, pertanyaannya mendasarnya bahkan sebelum ditanya anda punya expectancy positif atau negatif.. regardless your approach mau teknikal atau fundamental kek… apa anda punya sistem trading yang jelas?  jika tidak, sory to say, no you don’t have an edge

semoga bermanfaat.

 

In-Depth Trades Review

akhirnya saya bisa fokus kembali, tepatnya saat waktu makan malam akhirnya bisa fokus mendengarkan podcast, podcast dari chatwithtrader no 159. sebenarnya iseng aja, kepala lagi puyeng kebanyakan lihat layar seharian. sepanjang minggu sebenarnya saya mendengarkan 2-3 podcast yang hanya lewat begitu saja, tapi entah mengapa, malam ini walaupun pembahasannya cukup membosankan, ada satu pesan yang disampaikan greg newman menurut saya penting. yaitu menganalisa keputusan jual beli yang sudah dilakukan secara detail.

sebenarnya saya pernah melakukan pencatatan seperti ini, bahkan rasanya saya masih disiplin mencatat transaksi jual beli saya (kecuali 1-2 bulan terakhir) di web chartHero yaitu chart.paktua.id , tp setelah mendengarkan podcast diatas, rasanya ada yg mayoritas trader lewatkan dalam pencatatan atau trade review bagaimana seharusnya dilakukan. yaitu mindset extreme ownership dan in depth trade review.

extreme ownership adalah mentalitas yang meyakinin seluruh output / outcome yang kita terima adalah sebab dari keputusan dan merupakan tanggung jawab kita. sedangkan in depth review adalah analisa mendetail atas keputusan beli dan jual yang kita lakukan. detail. tidak sekedar menuliskan output dari trade tapi secara menyeluruh menceritakan apa yang kita rasakan dan alami sehingga memutuskan mengambil keputusan yang kita ambil.

menurut greg, dua hal diatas yang membuatnya menjadi trader lebih baik.

terdengar basi?

rasanya sering banget kita membaca pentingnya mencatat trade yang kita lakukan, cuma pertanyaannya apakah kita  sudah melakukan pencatatan? jika ya, apakah kita melakukannya secara konsisten? jika ya, apakah kita melakukannya secara detail? jika iya, apakah kita benar-benar mempelajari kelemahan dan kelebihan kita dari catatan tersebut?

dari pertanyaan diatas, jika ada satu yang dijawab tidak, maka bisa jadi itulah penyebab anda belum menjadi trader sesukses yang anda inginkan hingga saat ini.

bagaimana dengan saya? hmm.. saya tidak konsisten melakukan pencatatan, dan sepertinya tidak pernah benar-benar membaca ulang catatan tersebut agar bisa menganalisa kelebihan dan kekurangan saya dalam mengambil keputusan. biasanya cuma di ingat-ingat saja.

kurang tertarik? atau merasa journaling tidak bisa memecahkan masalah anda untuk menjadi trader lebih baik?

baik, kita ubah perspektifnya, jika anda merasa sudah melakukan semua dengan benar, tidak ada salahnya anda melakukan pencatatan hanya untuk mengetahui klaim ‘sudah melakukan dengan benar’ tersebut.. karena seperti quote diatas, melakukan pencatatan adalah upaya untuk mengetahui keyakinan ( baik yang disadari atau tidak disadari) yang anda miliki.

sekali lagi.. untuk mengetahui keyakinan (baik yang disadari atau tidak disadari) yang anda miliki.

gimana? jadi melakukan journaling bukan dalam rangka menjadi lebih baik, cuma mau membuktikan klaim . misalnya klaim bahwa saya adalah trader disiplin, yang selalu cut loses short dan let profit run itu benar adanya.. klaim bahwa saya punya edge saat market trending karena saya selalu buy on breakout… apa benar saya mayoritas buy on breakout.. mari kita bandingkan dengan catatan.

karena kadang kala apa yang anda yakini kita lakukan, tidak berbanding lurus dengan kelakukan kita sebenarnya.

so? tertarik untuk melakukan in depth review? malu? atau ga punya tempat menulis?

jangan kawatir, anda bisa melakukan journaling di halaman ChartHero di url http://chart.paktua.id

jika ragu, anda bisa membaca journaling saya di laman disini, http://chart.paktua.id/q/in-depth-trades-review-paktua/

kalo mau lihat analisa chart saya, bisa di menu ‘Arsip Analisa Saham’, di update mingguan… tertarik? cukup daftar lalu anda bisa lalu membuat thread sendiri untuk melakukan journaling, semua orang bsia membaca dan memberi komentar, jadi kita punya mata lain untuk membantu evaluasi.

sampai jumpa di ChartHero !

layanan grup premium

wifi rumah baru nyala lagi. finally

akibat ngototnya dapet diskon fee untuk internet service, gue rela puasa internetan sebulan lebih. 😀 absurb… tadinya saya pikir bakal sakau ngenet, ternyata survive juga.

tanpa internet, optimalisasi penggunaan waktu menjadi sesuatu yang tricky, saya mencoba mengisi waktu dengan membaca tapi gagal, lalu nyoba konsisten dengerin podcast untuk isi waktu.. ga tau kenapa sulit sekali untuk fokus, sepertinya kenapa ada hubungan berbanding lurus antara minat membaca atau bahkan mendengarkan podcast dengan koneksi internet. so, i did what i do best, sleeping. 

kemampuan membaca juga berhubungan dengan minat menulis, so be gentle with me, tulisan ini tidak se-serius tulisan-tulisan sebelumnya. i just wrote what comes in mind. tapi i’ll try to be as informative as i can be. saya sangat menghargai waktu anda untuk melanjutkan membaca.

let’s go.

market sejak awal feb – sampai sekarang juga sangat tricky, 2 bulan ini rasanya saya sudah mengembalikan setengah cuan di bulan januari. dan itu banyak aja.. serius. banyak. 13 hari di april ini pun  rasanya market tidak mengurangi niatnya untuk menggerus modal.

Padahal rasanya saya sudah sangat hati2 untuk positioning, di 2 bulan terkahir periode full cash saya nyaris setengah waktu tersebut. tetep aja tergerusnya lumayan banget.

ya jadi kesimpulannya saya rugi di bulan februari dan maret dan (sejauh ini) begitu pula di bulan april

makanya saya kagum dengan chanel-chanel yang sepertinya untung terus, di stockbit atau telegram grup, tiap sore atau malam komennya ‘selamat cuan ya, yang sudah ikut rekom xx.. ‘ ‘happy cuan di saham ….’. biasanya yang klaim cuan-cuan begini itu yang service berbayar. ceritanya sebagai bukti kualitas gitu deh.

mantab bener. bukan iri, saya cuma mikir pasti pendekatan beli/jual saya dan channel2 ini berbeda, karena harga bergerak di range sempit, dan speed momentum untuk koreksi cukup kuat, dan saya menghindari kondisi seperti itu, karena menuntut fokus dan dedikasi (di depan layar) yang cukup tinggi.

nah, ngemeng-ngemeng soal fokus dan nongkrongin layar dan soal layanan stockpick berbayar, saya punya pendapat memang sudah seharusnya layanan stockpick kudu berbayar.

banyak sentimen miring soal stockpick berbayar, argumen paling sering ditemukan adalah kenapa musti buka jasa layanan service stockpick jika yakin stockpicknya tokcer dan bakal cuan?   kalo emang jago, kenapa bikin seminar-seminar, mana mahal pula, hidupnya dari cuan apa jualan seminar? kebanyakan sentimen miring seputar hal-hal tersebut.

tapi jika kita melihat dari perspektif yang berbeda, misalnya.. saya rasa orang-orang yang mencibir grup premium, jika menitipkan uang mereka untuk di kelola orang lain, pastinya ingin orang tersebut fokus 100 persen dalam melakukan hal tersebut, jangan terdistraksi pekerjaan lain, kenapa? pasti mereka tidak ingin mengalami kerugian. maka dari itu yang mengelola musti profesional dan fokus

maka dengan perspektif yang sama, saya berpendapat memang sudah seharusnya layanan grup premium itu musti berbayar, agar si pemberi rekomendasi atau kuncen grup bisa fokus terhadap tugasnya, ga mikirin hal-hal sepele lain yang bisa men-distraksi, misalnya harus nyari cuan untuk uang bulanan, atau butuh modal untuk ganti monitor dll… yang bersangkutan musti fokus 100 persen saat menganalisa dan sepanjang hari melototin market, bahkan jika perlu ga boleh ada libur, begitu market close langsung lanjut analisa untuk hari besoknya dan seterusnya.

kebayang dong sibuknya tu orang, makanya harus berbayar. biar ga mikirin uang bulanan dan lain lain.

gimana? setuju?

trader dengan pengalaman yang cukup sepertinya akan sependapat, karena kita tahu bahwa market tidak selalu forgiving, tidak selalu ada angin baik, kadang kita harus mantengin di pinggiran cukup lama, katakan lah ada signal buy, eh besoknya market koreksi dan stoploss belum kena, ya jadi kita menunggu.. untuk klaim cuan di setiap closing bulan, apalagi tiap hari itu sulit begete. makanya sudah sepatutnya layanan rekomendasi saham itu berbayar.

apalagi jika anda sudah melakukan riset hasil bertahun-tahun di market, hasil kegojek ratusan/ribuan kali, hasil bertapa dan bertanya sana sini… walaupun tidak selalu untung, anda tahu bahwa sistem anda punya edge yang baik jika angin sedang baik, rasanya jika di share rekomendasi sistemnya tidak ada salahnya untuk mengambil fee.

saya punya analisa untuk orang-orang yang mencibir layanan stockpick premium, saya rasa mereka adalah golongan yang belum pernah memakai jasa premium atau yang belum punya sistem sendiri, jadi menggantungkan analisa terhadap rekomendasi atau pendapat orang lain, saat cuan dia senang banget, saat rugi dia merasa tertipu dan di jebak, atau mungkin orang-orang sakit hati, dalam pikirannya layanan berbayar itu sudah seharusnya cuan terus, jadi pas ga cuan langsung protes dan ribut kemana-mana. pengennya yang pasti 100 persen.. kalo mereka punya sistem sendiri, dan terbukti punya edge yang baik dan teruji waktu..  seharusnya dia masuk orang di paragraf diatas

anyway, pendapat lain saya adalah jika anda memang tidak punya waktu khusus untuk trading, terlalu sibuk dalam pekerjaan lain, saran saya jangan join grup premium! iya, JANGAN IKUT REKOMENDASI BERBAYAR. mending beli reksadana, atau hire fund menager aja. 

adrenalin saat cuan atau analisa benar memang menyenangkan, keinginan menjadi trader saat anda tidak punya waktu khusus untuk analisa buat saya itu seperti trader yang kecanduan roller coster adrenalin, saat analisa anda benar rasanya ingin pamer di forum atau grup, jika loss anda terus-menerus kepikiran.. suram..

jika kita berbicara dari perspektif uang yang bertumbuh, investasi yang terus berkembang, maka ga usah mikirin perasaan senang saat cuan atau analisa anda benar, yang penting itu uang anda bertumbuh. uang bekerja untuk anda. titik. jadi  mending beli reksadana, atau ikut dana kelolaan saja.

semoga bermanfaat.

« Older posts Newer posts »

© 2018 a Trend Trader

Theme by Anders NorenUp ↑