Rich fundamentalist Poor technicalist

Rich fundamentalist Poor technicalist

Keledai

Alkisah seekor keledai yang sangat haus dan lapar berdiri diantara setumpuk jerami dan aliran sungai, tak bisa memutus apakah makan atau minum yang didahulukan, si keledai akhirnya mati kelaparan. DILEMA kisah keledai ini di kenal sebagai burridan ass, sebuah paradox tentang konsep free will, dimana terjadi undecided state saat ada dua pilihan yang equally important. jean buridan menjelaskan bahwa jika kita dihadapkan alternatif pilihan tentu pilihan rasional adalah mana yang lebih baik, namun saat kita di hadapkan oleh pilihan that judged equal, then the will cannot break the deadlock, all it can do is to suspend judgement until the circumstances change and the right course is clear.dan dan si keledai pun mati, ga bisa memutuskan mau minum atau makan dlu.

menurut Derek Siver agar kita tidak menjadi si keledai, salah satu solusi adalah always thingking long term, dalam wawancaranya dengan Tim Ferris, saat ditanya apa nasihat yang akan kau berikan kepada dirinya sendiri saat muda (30th). doi menjawab jangan menjadi keledai, jangan menjadi keledai yang bingung memilih pilihan karena berpikir shorterm, Derek Siver berpendapat bahwa banyak anak muda yang ingin mengejar banyak hal yang berdampak progres mereka cenderung stagnan, berpikir shorterm membuat diri kita terjebak dalam mindset kita harus melakukan semuanya segera, kalau tidak kita akan gagal, padahal jika kita berpikir long term, one at a time, kita akan menyadari kita bisa menyelesaikan dahulu satu hal dalam beberapa tahun, di ikuti tahun-tahun berikutnya untuk hal lain. jangan menjadi keledai yang malah mati karena overwelmed dengan keharusan mengambil keputusan.

Keledai Trader

dengan index yang ‘berlari’ +- 12-13% sejak low november 2018, saham pun sudah ‘berlari’ dari lower low / lower high-nya, sebagai contoh sektor konstruksi jika di rangking perubahan harga sejak low terakhir maka wika sudah ‘lari’ 75%, adhi 67%, ptpp 83% dan wskt 51%. jika dirata-rata avg gain 4 jagoan ini ada di angka 69%. belum lagi saham-saham property, atau bahkan banking yang seminggu terakhir kembali ‘berlari’. long story short, kesimpulan saya, pantas saja teknikalis itu ‘miskin’, yang kaya adalah fundamentalist.

jika anda bukan teknikalist, ijikan saya menjelaskan how we (or I) buy and sizing. kami sangat mengamini dogma trend is our friend, never fight it. jadi kami baru akan entry on if trend sudah in favor, walaupun definisi trend tiap orang tidak berbeda, timeframe kami yang berbeda. ada yang pakai daily chart, weekly atau bahkan hourly, untuk mendefiniskan trend naik dan turun juga banyak variasi, ada yang pakai ma200, ma50, pakai HH dan HL, dll, intinya si we never buy at lowest point. karena kami selalu menunggu konfirmasi. yes. we always late.

untuk sizing, kami diajari untuk membatasi risiko, mayoritas adalah penganut 1-2% risk per allocation. jadi kita sudah dapat 2 variabel penting untuk menentukan size. yaitu harga low terakhir atau ma signifikan sebagai stop los karena jika last low price atau ma 200 violated maka uptrendnya batal (kembali ke konsep trend pada paragraf diatas) dan risk allocation yaitu 1-2% capital. dengan rumus sederhana anda akan mendapatkan jumlah lot yang direkomendasikan untuk dibeli. intinya we cap our risk and size therefore we cap the impact. gain or loss.

disisi lain, fundamentalist selalu berdiri diatas konsep margin of safety. walaupun pendekatan menghitung value bervariasi, ujung yang di incar adalah margin of safety. 50% or more, risk mereka adalah kewarasan mr market, semakin tidak waras mr market, makin senang, makin salah harga makin napsu, jadi mereka berdoa mr market senantiasa memberikan peluang via ketidakwarasannya, karena sifat bipolar mr market bergerak dua arah, baik salah harga saat memberi harga terlalu murah dan menghargai berlebihan, para fundamentalist bermain di area tsb. notice tidak ada bahasan soal size disini, karena untuk menghitung size kita butuh 2 variabel, risk per allocation dan stop loss. lah wong buat fundamentalist makin salah harga, mereka makin napsu.. makin beli. gimana ngitung size nya. so mereka porfolio mereka cenderung concentrated. ibarat calon pedagang yang nemu supplier cuci gudang untuk barang yang seharusnya mahal, mereka stok yang banyak bray.

nilai tambah lain pendekatan fundamental adalah deviden gain, jika mr market mendadak waras dan mulai menghargai barang yang tdnya dihargai kelewat murah menjadi wajar atau bahkan kemahalan, fundamentalist bisa saja tidak serta merta menjual, karena jika hasil re-analisa si saham punya potensi growth atau menunjukan growth baik, buat apa dijual… gimana ga kaya, udah concentrated, dapet capital gain plus deviden dgn size concentrated!.

gimana, mau ganti pendekatan? kombinasi pendekatan beli that trader always late. dan capped impact because trader limit risk through sizing plus DILEMA si keledai trader yang terjebak dalam mindset short term menyembabkan kecenderungan over diversify. inilah penyebab utama teknikalist cenderung ‘miskin’, akhirnya selalu kena skak mat tiap debat dengan pertanyaan mudah ‘tunjukin saya mana teknikalist yang lebih sukses dari om buffet’ …matik kau..

intermezo, ngomong-ngomong soal teknikalist yang lebih sukses dari om buffet, tiap ada pertanyaan ini saya selalu ingin balik bertanya, apa bisa sebutkan fundamentalist lain yang sesukses om buffet? apa ga mau mikir kaya-nya om buffet ini black swan event.. apa gunanya berdebat ini, wong kamu, saya, kita, yang selalu klaim lebih pintar dari langit masi begini-begini aja, isi paket ama bayar internet aja masi sewot, liat diskon indomie. langsung nyetok ber dus-dus… kismin.. jangan mikir buffet, yang lokal macam LKH aja lu masi jauh.. kelakuan berdebat ini tu kek orang ributin milih ngikutin messi atau ronaldo, padahal doi lari konstan 2 menit aja langsung semaput. goblok.

kembali ke laptop. gimana, mau ganti pendekatan? biar kaya kek om buffet, ga pede? ya at least when u shoot the sky then failed you gonna fall between stars. yoi g? bisa lah ya, tiap hari makan mcd kan enak, hidup sederhana. reinvest you gain, let it roll like snow ball. saya si belum tertarik, karena masi pede untuk persoalan over diversify bisa lah awak selesaikan,

silahkan di renungkan. semoga bermanfaat.

btw buat teknikalist biar bisa jawab kalo ditanya siapa aja teknikalist yang kaya, suruh baca buku trend follower nya michael covel, disitu ada daftarnya. jangan malu-maluin atau kl males tunjukin lah itu ig2 trader yang pamer lambo.. hehehe.. kidding.

 

Leave a Comment