Rat race

Morgan freeman duduk di samping jendela dengan latar belakang perkantoran, wajahnya sedikit masam menatap hape yang dipegangnya. memberi gambaran doi sedang text-ing dengan temannya. bagaimana saya tau doi lagi sms-an? karena di pojok kiri atas meme tersebut ada penggalan sms antara morgan dan temannya.

fren: what do you do?

mf: working bro..

fren: what do you do after working?

mf: resting, preparing to work tomorrow.

ilustrasi diatas adalah gambaran meme yang saya temukan di 9gag. sederhana tapi sangat menusuk hati.

sama seperti jawaban dari the dalai lama saat ditanya apa yang menurutnya paling mengejutkan dari humanity. 

jawabannya:

Man, Because he sacrifices his health in order to make money. Then he sacrifices money to recuperate his health. And then he is so anxious about the future that he does not enjoy the present; the result being that he does not live in the present or the future; he lives as if he is never going to die, and then dies having never really lived

Sisyphus 

pernah dengar/baca tentang mitos sisifus? seorang yang dihukum untuk mendorong batu besar menuju sebuah bukit, hanya untuk melihat batu itu jatuh kebawah saat di puncak. Dan ia harus mengulangi proses mendorong batu itu, mulai dari bawah lagi. Terus menerus. Tak pernah putus.

ada banyak versi soal kenapa sisifus mendapat hukuman seperti itu, ada banyak interpretasi pula tentang apa yang dilakukan Sisyphus. Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus menganggap jika Sisyphus adalah symbol pencarian eksistensi kehidupan manusia. Sebuah kondisi penuh hukuman dimana kematian bisa menjadi jalan keluar. Sayangnya, Sisyphus harus berurusan dengan keabadian. Dan apa yang lebih menyiksa dari melakukan pekerjaan tanpa makna selamanya?

Yang jelas Sisyphus adalah sebuah symbol kesia-siaan. Perjuangan yang tidak menghasilkan, dan hanya berakhir pada kekosongan. Tragedi Sisyphus adalah cerminan kehidupan yang terus menjadi siklus. Tapi benarkah Sisyphus adalah sebuah symbol penderitaan?

Where are we now?

Di website saya membagi banyak hal, termasuk cita-cita saya untuk mendapatkan return memuaskan dalam trading. menilik sedikit lebih jauh, saya memulai trading sejak 2014 dengan plot timeline 1 tahun belajar dan 3 tahun learning periode. saat ini juli 2018 artinya  learning periode sudah terlewati, bagaimana return dan konsistensi saya dalam trading? apakah 3 tahun terakhir hanya kesia-siaan?

buat saya sebenarnya tahun pembelajaran tidak di tutup minus saja sudah bagus. karena 3 tahun terakhir memang di desain bukan untuk untung, melainkan mencari edge dan konsistensi. sehingga saat 2017 ditutup positif adalah hal yang cukup luar biasa.

dalam perjalanan trading, buat saya finding edge is easy, yang tidak mudah adalah konsistensi dan doing nothing. 

Januari lalu return saya sebulan hampir 10x gaji bulanan, sayangnya, seperti sisifus yang harus rela melihat si batu menggelinding ke dasar bukit, saya cukup sembrono untuk mengembalikan sebagian besar cuan tersebut kepada market.

Mengembalikan sebagian besar cuan tentu hal yg bodoh. udah tau susah payah cuan malah menghabiskan 5 bulan berikutnya untuk mengembalikan cuannya. dan sialnya setelah dianalisa ke-sembrono-an diatas terjadi justru karena saya konsisten, what? whyy? karena sebagai breakout trader. saya konsisten buy on breakout.

following herd.

saya pernah menulis bahwa seharusnya kita itu follow the herd…. walaupun upto 90% trader fail, because majority trader always do the obvious tapi saya tetap yakin bahwa jika ingin sukses we should do the obvious.

setelah saya renungkan ada satu hal kunci yang luput dalam tulisan diatas, biar ga ikutan fail as majority trader did, we should know when to and when not to follow the herd. ini lah yang dimaksud contrarian, contrarian itu buat saya bukan melakukan hal yang berlawanan dengan common sense / knowledge. tapi know when not to follow the herd.  sialnya as breakout trader, 5 bulan terakhir saya lupa when not to follow the herd. i keep buying breakout although the market in downtrend phase.

lantas apakah 3 tahun terakhir hanya kesia-siaan?

tahukah anda bahwa kerja yang tak berkesudahan dalam kisah sisifus malah diakhiri dengan senyuman

dalam kisah sisifus, perjuangan menuju ke puncak membawa beban batu itu sendiri sudah cukup mengisi hati; giving him a meaningfull purpose. kita harus membayangkan sisifus bahagia. karena dalam hidup ini, ada sesuatu yang lebih berarti daripada sekadar kegunaan atau kesuksesan.

imho, Kerja yang tak berkesudahan oleh sisifus itu seperti orang yang terjebak dalam rutinitas kerja 9-5. siklus tanpa henti yang dimulai dari bekerja -> dapat gaji -> membelanjakan pendapatan ->  kembali bekerja.  seperti meme Morgan freeman, atau hal yang mengejutkan dalai lama.

hidup, kerja kantoran, wirausaha, investasi termasuk trading buat saya termasuk dalam siklus diatas. yaitu kerja yang tak berkesudahan, di akhir perjalanan hidup ada yang sukses keluar dari rat race, ada yang tidak peduli, atau malah terjebak dalam ilusi kerja keras menabung at present moment untuk dinikmati kemudian sehingga lupa menikmati waktu yang berlalu.

apapun hasilnya, jangan lupa menikmat waktu anda. be at present moment.

Stopping to appreciate the beauty of the world around us is a reminder that there’s more to life than just getting through the day.