Tag: ciri elite trader

ciri elite trader: calculated size

First, indonesia kalah. It sucks!! lalu laptop sampai sekarang masih rusak, dobel sucks! but minggu ini saya beres re-read trend following by michael covel for 2nd time, which is nice. 

buku ini benar benar rekomended, buku ini, saya lebih sarankan untuk dibaca oleh tman-teman yang sudah makan asam garam dunia saham namun masih belum blow their account in a good means. hasilnya belum wow padahal effort sudah luar biasa. untuk teman teman yang sudah 2-3 tahun namun masih belum menemukan irama yang cucok. untuk teman teman yang sudah baca banyak teori dan buku trading tapi belum menemukan edge. yup, even though This book is really good. kl dibaca fresh newbie, malah sayang, banyak analogi dan message yang bisa saja ga sampe. i believe some book need a certain amount of knowledge before u read it to understand the it full soul / message. dan buku ini termasuk kategori itu.

banyak hal yang saya renungi pasca membaca pertama kali, saat selesai membaca untuk kedua kali, hal hal lain mulai terlihat, seperti puzzle, kepingan pengalaman (kesalahan) dalam diri saya yang dulunya tidak terlalu  dipusingkan, mulai terasa make sense. yup, Banyak pertanyaan penting yang kita alami tampak lebih make sense / terjawab saat kita menerima informasi lebih terkait hal tsb. ini seperti menambah perspektif / sudut pandang untuk menilai sebuah pengalaman, itulah salah satu manfaat penting membaca. 

salah satu hal yang baru ‘dong’ di mindset saya adalah bagaimana pentingnya melakukan calculated risk dan reward yang layak. terasa basi? well, sebelumnya saya pun begitu, semua juga paham kita harus memperhitungkan risk, cth. membatasi maksimal 2 persen untuk setiap trade dst. Kayaknya semua trader udah lulus 3sks soal teori dr mr van tharp. but still, mindset ini ga bener2 jleb di otak saya karena saya ga terlalu paham why. 

calculated risk dengan melakukan penentuan size berdasarkan risk yang di alokasikan is super crucial, bukan hanya soal membatasi loss agar kita bisa survive jangka panjang, tapi ini soal proses compounding equity.  saya adalah trader yg punya fixed size. ya, saya selalu open posisi 15-20% equity, regardless the setup / jarak support dan resisten. repeat, regardless jarang support di dua setup ini berbeda.  see? saya tidak menghitung risk, saya cuma tau stoploss saya if price close di harga tertentu. saat entry, saya belum punya kalkulasi berapa nilai rupiah yang saya alokasikan sebagai potensi loss.  saya maen hantam size 20 persen equity aja!

Tau ga masalah dengan pendekatan yang saya lakukan?

dengan pendekatan fixed size,  yang sering terjadi adalah, loss di setup A kadang > dari pada gain di setup B. hal ini buruk untuk growth equity, mempertaruhkan 20% equity di dua posisi lantas 1 posisi loss 2% dan yang satu cuan hanya 1% (dr total equity) is really bad move. dikali 100 traksaksi in total saya malah loss. padahal setelah direnungi, apapun metode anda, mau trend following, mau mean reversion, mau copet, kalkulasi nilai potensi loss yang menjadi pertimbangan size sangat penting. CRUCIAL.

kalkulasi size yang mempertimbangkan alocated risk are CRUCIAL.

makin basi? good for u, semoga anda sudah melakukannya, btw, saking pentingnya, menurut saya hal inilah yang disebut holygrail dalam trading, asal gain > loss, bahkan jika winrate anda hanya 15% on the long run anda tetep cuan. serius. (ini beneran, kisahnya ada di buku, hint: dia trend follower). 

bagaimana? semoga tulisan saya juga bisa memberikan kepingan puzzle tambahan sebagai informasi pendukung untuk menjawab pengalaman anda, semoga. 

eh, bagaimana dengan reward yang layak? silaahkan baca seri artikel ‘ciri trader elite’ yang judulnya letting profit run. intinya si disitu, im too lazy, apalagi mancity vs arsenal udah mau mulai. :p

ciri elite trader: a lone(ly) wolf?

sebelum memulai artikel ini, saya mau update dulu, sepanjang pekan ini saya flat. sejak di tonjok ama market di minggu kemarin, saya hanya buka platform trading dihari senin untuk bersih bersih portfolio, lalu cuma sesekali liat market, bahkan ritual charting yang biasanya saya lakukan tiap malam absen saya lakukan, saya cuma baru charting barusan aja, sebelum nulis artikel ini. ada beberapa alasan kenapa:

pertama karena saya masih belum siuman, hahaha, masih sakit kena tonjok market. mau me-reset emosi ceritanya. liat chart rasanya masih ngilu. market juga ga menawarkan setup yang menarik.

kedua saya sudah putuskan untuk flat hingga habis libur lebaran. punya posisi menjelang lebaran sebenarnya tidak buruk, seinget saya tahun lalu saya masih trading bahkan di minggu terakhir menjelang market libur. namun karena minggu depan (tgl 23) ada vote brexit, lalu depannya adalah minggu terakhir sebelum market tutup, saya pikir sebaiknya saya istirahat dlu, toh masih galau habis cutlos besar besaran. hahahaha. pret.

saking masih “galau”-nya, saya sebenarnya males nulis, cuma karena harus disiplin. ya saya nulis deh, tema artikel ini sudah lama ada di notepad, belum ditulis karena buat saya ini materi mahal dan saya masih bingung mengutarakannya. tapi dari tadi bingung mau nulis apa, yasudah saya tulis materi simpanan sejak awal tahun saja. mari kita mulai.


in my humble opinion, menjadi great and success trader will bring you to a lonely road.

and of course before that phase, we will ride some long journey first. so it’s a long and then a lonely road.

kita mungkin bisa sepakat menjadi mediocre di dunia trading saja will takes time, butuh waktu banyak, iya, cuma buat KONSISTEN impas saja butuh waktu yang ga sebentar  di market. saya saja baru tahun ini (menuju tahun ke 3)  akhirnya bisa merasakan positif year to date performance (so far). apalagi untuk KONSISTEN CUAN bisa takes more time, lah, apalagi yang tarafnya bisa trading for living. well, trading itu simpel, tapi susee. untungnya tidak mustahil. kayaknya berapa lama kita sukses di trading itu tergantung kembali kepada si trader. sejujur dan sebaik apa dia belajar dari pengalaman.

mungkin kita bisa sepakat ide diatas, bahwa selamat di trading itu takes time, tapi apakah kita bisa sepakat bahwa ciri elite trader adalah trader penyendiri? hmm.

entahlah, saya si ga kenal banyak jagoan trader, atau yang saya anggap jagoan emang ga banyak juga, jadi asumsi saya bisa saja kekurangan sampel. tapi kayaknya jagoan trader yang tarafnya udah kelas ngawur punya kecenderungan bahwa they tend to be independent wolf. ga banyak cakap, ga banyak komen, timeline sepi (atau malah bahas non trading topic). bahkan for some great trader (or maybe, it’s just me) tend to avoid reads news, trading forum or even joining trading group. serius.

eits, bukan berarti grup trading ga perlu, buat pemula kayak saya sangat penting join di grup yang tepat. alhamdulillah saya join di grup QT sama Smart Trader. they we’re great people. and superb group.

The one who follows the crowd will usually get no further than the crowd. The one who walks alone, is likely to find himself in places no one has ever been. Albert Einstein.

asumsi saya berdasarkan logika sederhana, karena mereka elite trader, maka mereka udah super fokus terhadap apa yang mereka lakukan, tau ciri orang fokus terhadap goal mareka? they really hate wasting time. hateee it. mereka hanya fokus terhadap hal yang menjadi self interest mereka, yang bisa mendukung pencapaian goal mereka. maka, harusnya jika sudah sampe ke level elite, seorang trader bakal ga banyak cakap, ga banyak komen, apalagi nyampah ga mutu di timeline. benci basa basi, benci pertanyaan ga mutu. malas buang buang waktu ga jelas, apalagi ngerusuh ga penting di forum. dst dst.

(btw, wasting time disini ga general ya, cth. fooling around bisa saja tidak wasting time, selama mereka rasa perlu fooling atau joking around ya berarti itu ga wasting time. they just hate wasting time to do something they do not want to)

eh iya, ga banyak cakap, ga banyak komen, sama menghindari hal hal yang ga penting diatas, semata mata karena si trader tau betul bahwa titik lemah dari kinerja dia sebagai seorang trader adalah dirinya sendiri. jadi si trader menghindari hal hal yang bisa membuat dirinya ter-deviasi dari peak performance doi, contohnya hal-hal yang bisa mempengaruhi judgement, atau kemampuannya mengambil keputusan, maka si trader menghindari hal hal ga penting,  kayak baca rumor, cakap sana, cakap sini, nimpalin hal hal ga penting, dst. they very understand what they need to do to keep their performance.

do they feel lonely? mereka memang jalan di jalan sepi, tapi apakah mereka kesepian? hmm, kayaknya si engga, they keep themselves busy. super busy to achieve their goals. they busy learning.

the keep being busy until they become great, then they enjoying time. 

jadi apakah ciri elite trader itu adalah seorang penyendiri? emm, maybe. atau kayaknya kata yang lebih tepat adalah ciri elite trader is an independent trader. but yes, its a lonely road.

lantas bagaimana dengan suhu suhu yang membuka room buat domba domba yang tersesat? iya si, banyak suhu yang buka grup sendiri, and yes, they we’re very great trader. mungkin itu cara mereka berbagi, setelah jadi elite trader, bosen cuan sendiri, cape liat domba muda nabrak sana sini, atau cape digangguin buat minta stockpick, akhirnya mereka memilih mengabdi dengan cara menuntun domba muda, biar ga di-sate ama market. tujuannya sederhana, biar pada mandiri. hehe. btw, yang join grup bisa saja banyak tapi untuk jadi teman si lone wolf, itu perkara lain, mereka akan sangat picky menerima murid. karena si guru tau, diakhir bimbingan ,si murid harus berjalan sendirian, ke barat, mencari kita suci, halah. apa sih.

well, this just my 2cent. udah ada di otak sejak awal tahun.

© 2018 a Trend Trader

Theme by Anders NorenUp ↑