awal februari lalu saya dinas ke bandung, bareng si pras, jonny, sabil, si ican sama anak baru namanya ndaru, tidak untuk satu kegiatan yang sama, hanya kebetulan di hotel yang sama. jadilah kami pns urakan sibuk diskusi sendiri ketimbang memperhatikan panelis narasumber yang sudah dibayar mahal oleh rakyat untuk mencerahkan otak kami.

pendek cerita, kami berdebat soal saham. yup. walaupun diantara kami yang terjun kedunia saham hanya saya dan jonny, temen yang lain terutama si sabil sepertinya cukup ingin tahu. sabil sendiri udah lama tahu kl saya serius di saham, seinget saya, diawal terjun ke saham saya sempat cerita dan mencoba mengajaknya bergabung, namun ia lebih memilih membeli sebidang tanah dan berternak lele ketimbang terjun ke saham. walaupun akhir desember lalu semuanya sudah dijual rugi karena tidak terurus.

sabil ini orang pinter, lulusan universitas terkemuka di semarang, di kantor dia menjadi perencana, bertugas menyurun rencana kerja kantor sampai 2030. rencana kerja jangka pendek, menengah sampai panjang semua dia yang kerjain, visi, misi, metode serta analisa untuk setiap kegiatan dilahap habis ama dia, bisa dikatakan dia stat khusus direktur untuk masalah perencanaan, LAKIP, RENSTRA, RENJA, semua dia yang buat. anaknya cerdas, akademis, dan tentu sedikit keras kepala. pokoknya oke lah. keminter atau kepinteran gitu.

tapi lucunya, saya malah mendapatkan kesimpulan aneh hasil berdiskusi dengan sabil, aneh? iya, berikut kesimpulan saya :

  1. orang kepinteran akan sulit sukses di trading,
  2. orang sinis, dengki dan prasangka buruk ga bakal sukses di trading.

wah, kok orang pinter akan sulit sukses di trading? begini ceritanya.

seperti orang pinter pada umumnya, sabil sangat krits, dia ga terima saya sehari hari mempertaruhkan duit hanya dengan modal gambar pergerakan harga. sewotnya bukan main. “lu gila apa, mana bisa sukses lah, masa cuma analisa pergerakan harga, gimana mau sukses, edan. lu harusnya analisa bla bla bla.. ga lupa juga pakai metode bla bla bla.. ” pokoknya sewot. pake banget.

melihat responnya saya tertawa, lalu saya cerita soal aliran astronacci. “kl di dunia saham, gue itu disebut aliran teknikal bil, gue memang hanya menggunakan informasi pergerakan harga plus volume. kl melihat cashflow, kesehatan perusahaan dst itu disebut fundamental analisis. ada juga area diantara kedua itu yaitu area abu abu yang mencapurkan keduanya, tapi ada juga loh yang memutuskan jual beli berdasarkan astrology, dan sepertinya mereka cuan juga”

responnya doi makin resisten, sewot makin menjadi “hahaha, itu goblok apa edan. bla bla bla” sabil makin menjadi, mulai ngarol ngidul ngasih contoh yang lebih masuk akal dan tentu ilmiah yang menurut doi akan lebih menjamin cuan.

saya sendiri lebih banyak diam, si jonny ga berhenti ketawa. tapi dari percakapan itu, saya menyimpulkan bahwa orang kepinteran akan sulit sukses di saham. dan orang sinis, dengki dan berprasangka buruk GA BAKAL sukses.

bukan ucapan sabil yang menjadi fokus saya, melain responnya, sangat negatif. langsung resisten dan menutup diri terhadap ilmu yang tidak familiar untuk dia. saya sendiri tidak menggunakan aspek fundamental apalagi astrology. tapi saya menghormati orang orang yang memilih jalur tersebut, serius saya percaya, orang orang yang memilih metode itu juga ga bisa dibilang goblok bahkan gila,  buktinya mereka bisa eksis sampe sekarang.

balik lagi ke sabil, analisa saya terhadap respon sabil adalah mungkin karena dia kepinteran, atau merasa udah kepinteran, seperti sudah tau semua ilmu di dunia, dan tidak mungkin ada ilmu baru atau lain yang dapat mematahkan pemahaman yang telah dimilikinya selama ini.

jadi inget pelajaran sejarah soal nicolaus copernicus yang mencetuskan pendapat bahwa bumi itu bulat, doi praktis menjadi bulan-bulanan masyarakat banyak. galileo malah ikut nambahin selain bulat, bumi berputar mengintari matahari sebagai pusat tata surya. makin di bully lah dua ini. eh eh, tenyata yang bener dua orang ini.

disaham itu ada seratus cara cuan, sejuta jalan rugi. jadi semua ilmu halal bray. hehe.

sekali lagi, yang menjadi masalah adalah respon si sabil, resisten banget, ga hanya sekedar menolak, doi nambahin dengan celaan plus prasangka buruk, udah kayak fadil zong atau hamzah farhi. “paling itu astrology bisa eksis sampe sekarang karena dari duit member coi, nipuin member, ga logis bro bisa analisa dari bergerakan bulan bintang, edan”

kalimat ini yang membuat saya menyimpulkan, orang jahat, dengkian, sinis, prasangka buruk-an ga bakal sukses di saham.

menurut saya, dunia saham sangat menuntut kecerdasan emosi, sangat menutut. keputusan beli dan jual atau jual tanpa kekuatan kecerdasan emosi akan sangat riskan terhadap bias maupun ombang ambing emosi, apalagi jika  sambil melihat pergerakan harga.

orang dengan tingkat sinisme atau bawaan selalu prasangka buruk ga punya kecerdasan emosi, karena semua yang berbeda akan menjadi musuh atau buruk dimatanya. untung aja sabil pinter.

lalu apa hubungannya dengan judul? three wise monkey itu see, hear and say wisely. nyambungkan?