Selamat tahun baruuuuuuuu 2015. 🙂 🙂 😀

Akhirnya saya bisa nulis lagi, sejak tanggal 27 saya mudik ke pati. ga bisa internetan. belum ada sinyal esia.

Tahun baru akhirnya datang, sudah satu cycle saya lewati sejak mulai trading maret 2014. ya walaupun belum pernah ngerasain january effect. gpp dihitung sudah satu cycle deh. biar nanti hitung hitungan kinerjanya gampang. eh ngomong ngomong kinerja porto saya adalah 0%. noll besarrr. yup. saya anggap impas kinerja portofolio 2014. abis untung juga dikit amat. ga asik. jadi impas aja lah.

Walau kinerja saya 0 persen, 2 target saya sejak awal mulai trading sudah tercapai yaitu untuk loss 15% dan memiliki metode trading yang memberi kenyamanan.  sejak awal trading saya memang punya target untuk setidaknya loss 15%. hitungan saya kenapa saya harus loss karena saya harus mencoba berbagai metode. mencoba berbagai indikator. hingga setidaknya saya merasa nyaman atas metode trading yang akhirnya saya pilih. dan akhirnya metode itu saya temukan. ternyata tanpa disadari, metode itu adalah metode yang sejak awal memang sudah saya lakukan. cuma ga konsisten. hehe.

Ada dua alasan lain yang membuat saya mewacanakan loss 15% sejak mulai trader yaitu : cukup aneh buat saya jika kita ingin sukses di dunia saham, ingin dapet capital gain, ingin uang bekerja untuk kita, ingin bla bla bla namun tidak mau loss sebagai biaya pembelajaran. kita yang sekolah dan akhirnya kerja digaji 3-5jt aja biayanya banyak. apa lagi potensi unlimited wealth begini.  selain itu juga karena saya percaya bahwa kecerdasan emosi saat realisasi loss / posisi rugi sangat penting untuk mempersiapkan diri menjadi trader sukses. maka saya siapkan dana untuk loss 😀

Emang lucu kalau di ingat ingat. saat masih belajar di simulasi kontan dulu. saya pernah baca tentang tahapan seorang trader. mulai dari Unconscious Incompetence, Conscious Incompetence, The EUREKA Moment, Conscious Competence, Unconscious Competence

Saat baca tentang tahapan itu, tentu ada resistensi dari dalam diri kita bahwa kita ga mau menjadi tahap 1 dan 2 yaitu unconscious Incompetence, Conscious Incompetence. kan kita sudah belajar. sudah persiapan. saya sendiri persiapan sejak mei 2013. sejak turunnya market pasca pengumuman bahwa QE akan pelan pelan di berhentikan. sejak mei 2013 hingga awal 2014 walaupun ga tekun tekun amat, saya selalu menyempatkan membaca. minimal saya download ebook soal trading dan metode trading. saya cukup yakin saat itu ga akan menjadi trader yang Incompetence apalagi ga sadar kalau Incompetence. 

Namun kalau di ingat ingat lagi, ternyata benar adanya, saya pernah menjadi Incompetence Trader. untungnya abis itu sadar dan menjadi Conscious Incompetence. karna simulasi jelas tidak sama dengan saat terjun di dunia trading sebenarnya. kebutuhan kecerdasan emosi sangat dibutuhkan. kemampuan mengambil keputusan secara jernih atas reaksi pasar terhadap posisi yang kita ambil sangatlah penting. dan hal seperti ini tidak mungkin diperoleh jika belum terjun beneran di dunia saham.

Saya sudah pernah loss, saya sudah pernah mengalami rasanya mencoba berbagai indikator. sampai suatu moment entah pasca / pra lebaran saat itu posisi saya untung. namun saat saya liat chart, saya ga tau alasannya kenapa saya buy itu saham. serius. saya bingung. narik narik fibo kok belum pas support. tapi kok gue udah beli, tapi kok ya malah untung. bingung. itu titik dimana (anggapan saya bahwa) saya sadar atau di eureka moment. untuk saat ini sih saya si ge’er sudah di posisi eureka moment atau Conscious Competence. 😀

Kenapa saya (beranggapan) sudah di eureka moment? karena metode trading saya sudah saya temukan. saya hanya akan positioning jika kriteria kriteria tertentu terpenuhi. kriteria itu diambil dari 2 indikator yang disesuaikan dengan kondisi pasar. kenapa metode harus disesuaikan dengan kondisi pasar? karena sepanjang 2014 itu IHSG bullish. enak aja positioning.  coba saya masuk saat mei 2013. bisa suram kali ceritanya. cycle bullish sudah dilewati, cycle bearis panjang belum. paling cuma koreksi sebentar. makanya kriteria untuk pasar bullish berbeda untuk pasar bearish dan berbeda untuk pasar koreksi sesaat. kita sebagai trader harus punya saklar. tinggal sesuaikan dengan kondisi pasar.

Selain disesuaikan dengan kondisi pasar, metode trading juga harus disesuaikan dengan alokasi waktu si trader. saya kemarin sebelum desember cukup yakin dengan gaya swing. namun di mid desember, kerjaan kantor selesai. jadi saya banyak waktu untuk lihat running trade. ternyata ini ga bagus juga loh. beda kualitas eksekusinya dengan saya yang jarang lihat running trade. tapi ya untungnya masih gain 🙂 soalnya cepat disadari.

So, memasuki 2015 ini saya punya target untuk menjadi Unconscious Competence Trader. biar lebih terukur maka target tahun 2015 adalah pertumbuhan capital sekitar 15-20%. Yosh!!

ps : aslinya awal nulis saya niat mau nulis outlook pasar saham 2015. eh kok malah curhat gini. gpp deh. tunggu next artikel y.