the conflict inside

dalam trading, khususnya pembahasan psikologi trading, salah satu substansi yang sering dibahas adalah conflicting believe, conflicting believe pada dasarnya adalah nilai nilai yang telah ada di dalam diri kita (baik kita sadari maupun tidak) berlawanan dengan value yang ingin kita raih saat ini/dimasa datang. singkatnya, yang telah ada di dalam diri vs yang ingin kita raih. kenapa harus mahfum conflicting values? karena self sabotage terjadi saat ada conflicting value dalam diri.

contohnya saya besar di keluarga sederhana, kedua orang tua saya pns, hidup damai dan aman, cita-citanya pun seperti rata-rata orang pada umumnya, rumah di perumnas, rajin menabung, no credit card, cicilan kecil dari gaji dst. got the picture? karena hidup yang landai-landai, maka risk appetite / tolerance keluarga saya, dan tentu yang ditanamkan dalam diri saya cenderung risk averse. diam diam, value risk averse ini tertanam kokoh di alam bawah sadar, maka saat saya menjadi trader, yang mencoba menerima risk sebagai bagian dari bisnis saham, yang mengamini bahwa loss adalah hal yang wajar, loss merupakan bagian dari bisnis saham,  atau kepercayaan untuk setiap posisi yang kita ambil memiliki resiko yang diluar kontrol kita. hal tersebut berlawanan dengan apa yang sudah tertanam dalam diri saya, terjadilah conflict values karena value tentang risk appetive / tolerance yang ada di dalam diri saya dengan yang saya butuhkan berbeda, karena saya secara alam bawah sadar memiliki kecenderungan sebagai risk averse, namun menjadi trader menuntut believe yang berbeda. disinilah salah satu penyebab self sabotage. mulai paham ya?

contoh lain misalnya saya sangat percaya bahwa there’s no shortcut to success. saya yakin anda semua pun mengamini hal ini. well, asal tau saja, mungkin karena value ini lah saya tidak serta merta jadi trader cuan dan sukses sejak di tahun pertama, karena saya sendiri percaya bahwa untuk sukses saya perlu proses, perlu mengalami kekalahan, extremnya, bahkan kalau perlu sampai akun saya blown out sehingga saya bisa comeback dengan keren nantinya. see? this believe, yang anda pikir baik-baik saja ternyata salah satu sumber penyebab self sabotage. saya bahkan baik secara sadar atau tidak telah merencanakan kerugian saya di tahun-tahun awal, saya tanamkan sebagai hal yang pantas terjadi. jadi saat sudah cuan banyak atau equity curve saya membaik, terjadilah self sabotage cth, oversize, sloppy trades dll.

mau contoh lain? hmm, anda diajarkan untuk tidak boros? kl ada duit, maka harus hemat, jangan sering buang2 duit secara mubazir, misalkan jika anda ke bioskop, eh pilemnya jelek, anda ga keluar, udah tanggung, boros lah kl udah bayar terus ga di tonton. bener ga? nah apa hubungannya tidak boros dengan saham? cut losses short. posisi kita baru aja masuk, belum lama udah floating loss, udah nembus support, harusnya kita cutloss, kita nyari pembenaran “baru nembus dikit kok”,”gpp lah nunggu sehari dua hari lagi” dst, pembelaan itu datang karena anda merasa mubazir untuk cutloss. lah baru juga punya posisi. masa langsung cabut

saya rasa you’ve got the idea.

the sensation and blind reaction

silahkan di play: https://www.youtube.com/watch?v=S6b8rGZc7xo

anda merasakan sensasinya? rasa ngilu dan tidak nyaman, seperti saat kita mendengar gesekan kukut di papan, atau tepi piring yang beradu. ngilu. mau tau kenapa kita merasa ngilu?

di berbagai sumber disebutkan bahwa suara gesekan kuku di papan ada yang menyebutkan hal tsb disebabkan oleh faktor turunan dari nenek moyang kita, karena suara suara gesekan kuku di papan mirip dgn suara teriakan panik monyet. serius. so when we hear something like that, our primitif memory kick in. atau di studi lain kita memang punya respon tidak nyaman untuk range suara di frekuensi tertentu. konon katanya frekuensi suara-suara yang menggangu bagi manusia memiliki rentang frekuensi di antara 2.000 dan 4.000 Hz.

pesan utamanya adalah bahwa kita pada dasarnya selalu bereaksi terhadap input dunia luar yang diterima sensor tubuh kita, contohnya suara pada video diatas. dan sialnya, bagi kebanyakan orang reaksi tersebut berjalan otomatis atau tanpa disadari. we blindly reacting to any input that come at our sensors. dan reaksi otomatis tersebut menimbulkan sensasi yang kita rasakan. nyaman, tidak nyaman, terganggu, dst.

sensasi tidak nyaman saat mendengar suara dari kaki kursi mendecit, besi yang beradu, atau bau busuk dari sampah atau bangkai tikus.. 

saya yakin dari membaca 2 baris diatas tanpa disadari anda bereaksi dan muncul sensasi tersendiri dalam tubuh anda. ga perlu galau, semua manusia memang begitu, apapun input yang muncul baik dari suara, bau ataupun penglihatan, menimbulkan sensasi dalam tubuh. 

sensasi hasil dari reaksi tak terkontrol diatas semakin diperberat jika ditambah dengan emosi hasil olahan data system 1 di otak kita, saat mencium bau bangkai misalnya muncul sensasi tidak nyaman ditambah emosi atas rasa terganggu yang bisa saja menjadi trigger marah atau bahkan takut. gabungan kedua hal tersebut bisa mentrigger banyak hal, misalnya deru napas, detak jantung yang naik signifikan, dst.

kombinasi sensasi akibat blindly reacting plus “drama” dari otak akan menentukan respon kita. marah, kesal, senang, gembira, euforia, dst. 

fyi, bagi kebanyakan orang  blindly reacting terjadi sepanjang hari, selama ada input sensory, sadar tidak sadar kita bereaksi, saat saya menulis artikel ini misalnya, tulang punggung yang menekuk memberi sensasi pegal di pinggang, ditambah lapar tengah malam begini menyebabkan emosi saya sumbu pendek, bawaannya pengen langsung nulis kesimpulan. this happen all day.

konon menurut buddha, (yes, THE buddha), perasaan / emosi yang kita lampiaskan sebenarnya akibat dari sensasi yang kita rasakan, bukan dari dunia luar, cuma kita melampiaskan ke mereka. cth. ke kantor pakai celana kekecilan di pinggang, rasa nyaman sepanjang hari yang dirasakan, jadi saat rekan kerja bercanda kita bawaannya malah emosi. kita emosinya ke mereka, padahal perasaan tidak nyaman itu muncul karena celana, bukan mereka. we react to body sensation

you got the point right?

reaksi tak terkontrol akibat sensasi tubuh + drama di otak juga di alami trader. bisa kira-kira apa?

contoh paling mudah adalah impulsive buy. pembelian yang diluar plan. atau bahkan selain diluar plan, pembelian ini juga tidak memenuhi kriteria buy. ada contoh lain?

coba renungkan, jika impulsive buy pernah / sering terjadi pada anda, silahkan dibayangkan dan disimulasikan apa sensasi tubuh yang terjadi saat itu. hari ini, melalui artikel ini, together, we’ll try to fix that. untuk itu silahkan renungkan terlebih dahulu. berhenti membaca. luangkan +- 30 menit.

the mind

untuk ‘menyelesaikan’ masalah conflicting believe dan blindly reaction, kita harus melakukan 2 hal yang berbeda, menyelesaikan masalah conflicting believe memerlukan tingkat keikhlasan yang tinggi karena kita dituntut berdiskusi dengan diri sendiri mencari believe yang memiliki conflict. you searching the why.

namun untuk blindly reaction, khususnya bagi trader hal yang perlu di ketahui adalah the when. kapan dan bagaimana sensasi tubuh yang ingin kita kendalikan reaksinya. 

duh kepanjangan ya.. kalo gitu kita akan tulis dalam 2 artikel terpisah. sementara silahkan di renungkan. 

semoga bermanfaat.