fyi, saya pernah menulis tentang keinginan mencoba market lain, mungkin market komoditas, forex, atau bahkan index negara lain. ditulisan itu memang konteksnya hanya untuk mendapatkan feedback,,,walaupun sebenarnya pesan utama yang mau saya sampaikan saat menulis artikel tsb adalah kalo lagi downtrend / sedikit banget yang menarik, ya jangan di paksain trading.

maka itulah judulnya “mencoba market lain? mau?” karena excitement trading itu seperti candu, membuat kita terus penasaran, dan “lapar”, jika cuan,,, kegembiraan muncul karena ego ingin merasa benar terpenuhi… dan jika loss,, dorongan untuk revenge terus merongrong kita… bahaya!

so, dengan limitasi jumlah saham  liquid di index Indonesia hanya 200an dari total 500 saham, dan dorongan impulsive untuk terus trading bisa menjadi pedang bermata dua,,, terkadang kita memaksakan diri untuk trading, padahal environment sedang tidak mendukung.

walaupun saat ini jumlah sektor yang bertahan di atas ma 50 cukup dominan yaitu agri, basic industry, finance mining, misc industry. namun menemukan chart yang menarik (menurut system saya) ternyata tidak mudah. and karena itu, judging dari jumlah chart yang menarik sangat minim, i seriously consider to try another market. hal ini semata mata demi optionality. saya tidak ingin terjebak untuk terpaksa trading padahal overall market tidak mendukung.

so, asumsi saya, ada beberapa keuntungan jika kita terbuka terhadap market yang lebih luas, pertama dengan opsi market yang lebih luas,,,imho, trader memiliki environment yang lebih mendukung, tidak terpaku dengan market yang terbatas, diversify portfolio melalui asset-asset yang memiliki tingkat korelasitas rendah dapat dilakukan. maka exposure terhadap risk dari volatility dapat terjaga.

lagi pula, saya punya teori jika tingkat ketergantungan terhadap intervensi bandar di market Indonesia ini cukup tinggi, maksud saya,, ketergantungan dari peran bandar untuk menciptakan volatility. entahlah, apa karena bandarnya dan retail tradernya juga sedikit. imho, hal ini berbeda jika di market yang lebih aksesibel seperti forex, komoditas atau saham amrik.

maka keuntungan kedua adalah keunggulan jumlah penggerak…. imho, jika di market lain seperti komoditas, forex atau saham amerika, jumlah insitusi yang “bertarung” menggerakkan harga tentu lebih banyak. institusi keuangan seluruh dunia nyari duitnya disini, mulai dari hedgefund, dana pensiun, dana asuransi, sampai badan usaha yang terbuka juga hedging dengan terjun ke saham.

sehingga volatility yang merupakan sumber nafkah dari trader retail macam kita ini lebih mendukung. tidak ada yang menjadi paling dominan, dan yang lebih penting, tidak ada ketergantungan terhadap bandar tertentu,,, nah imho, hal tsb tidak terjadi di market Indonesia, yang dominan menggoreng itu-itu aja, kalo sentiment fundamental lagi jelek atau netral, dan si bandar lagi males goreng saham(untuk semua level), maka index hanya gitu gitu aja, di kocok naik turun sideways. pendeknya si, jumlah spekulan kakap nya kalah banyak.

jadi apakah hipotesa saya benar? broader market, better trader?

ps. jika anda punya rekomendasi broker komoditas yang terpercaya. komen y.