hi guys, sorry.. hampir 1 bulan saya absen menulis, damn..  walaupun menyelesaikan 3 buku sejak mid januari, tapi tiap ingat kalo saya belum nulis itu kok berasa tambah bego…

saya mengamini teori yang mengatakan bahwa “if you want to know what you’re thinking you should write“ maka jika saya sudah nyaris sebulan ga nulis, artinya sebulan ini tidak ada pemikiran kritis yang muncul di otak. payah.

sebenarnya ada banyak potensi tema tulisan yang bisa ditulis, A Man for all Market-nya edward thorp, encyclopedia chart patterns-nya thomas bulkowski dan trade like stock market wizard-nya mark minervini memberi banyak ide untuk ditulis. tapi entah mengapa sejak tulisan terakhir, setiap akhir pekan otak saya buntu.

so for the sake of writing, saya coba berbagi satu mindset yang menurut saya cukup krusial dimiliki seorang trader. apalagi di kondisi market mulai volatile seperti sekarang yaitu longterm thinking atau berpikir jangka panjang.

seperti yang kita ketahui bersama, bulan februari diawali dengan koreksi heboh di market global, sedikit banyak hal tersebut berimbas ke ihsg. kalo ga salah DJI turun 1200 poin, lalu besoknya IHSG langsung koreksi, saya ingat separuh lebih auto sell saya ter-trigger, dan SELURUHNYA di lompatin alias ga match. heboh bener.

dihari itu juga saya flat. selain karena profit taking, sebagian lain posisi terkena auto sell yang ter-trigger, maka saya full cash. market dgn volatility heboh begini tidak compatible dengan sistem yang saya gunakan, dimana mayoritas trigger buy adalah buy on breakout maka dipaksa pasang auto beli juga jarang ada yang kena, malah sering kena gocek. pilihan untuk menepi dahulu rasanya tidak salah.

saat market volatile agak lebay sebenarnya asik buat nyopet, atau sekedar avg down untuk menurunkan avg agar saat exit full position ga rugi-rugi amat. jika anda perhatikan chart mayoritas secondliner di awal feb maka banyak muncul kaki panjang. itu karena koreksinya lebay dan tanpa volume signifikan, jika diperhatikan ihsg koreksi juga semata-mata karena solidaritas dgn regional saja. jadi membalnya gampang. namun sekali lagi, mencopet atau avg down bukan strength saya. maka  pilihan untuk menepi dahulu rasanya tidak salah.

di sisi lain, koreksi heboh di awal februari adalah penantian lama para pencari koreksi, yang sejak 2017 sudah dengan setia mewanti-wanti bahwa market sudah ketinggian atau 2018 adalah siklus koreksi. memang akun-akun doomsdayer selalu bermunculan jika ada koreksi heboh. para pencari value juga diam-diam senang, kan lumayan jadi banyak barang terdiskon. di saat koreksi, selain penganut value/growth investing yang tulen, para investor dadakan juga banyak bermunculan, trader yang tiba-tiba mempertimbangkan mos sebagai kriteria beli dan jual.

poinnya adalah ada banyak pendekatan jual dan beli.. saya yang trend trader, lalu ada day trader, ada juga para pencari value,.

mengutip trade like stock market wizard-nya mark minervini ...odds are that you wont be the best value trader, best growth trader, the best day trader dan the best long term investor, if you try to do it all, you will most likely end up a mediocre jack of all trades.. intinya akan sulit sekali untuk jadi jago di semua pendekatan, pilih salah satu dan fokuslah disitu… seperti dokter, akan sulit sekali bisa jadi ahli bedah otak sekaligus ahli psychiatrist atau ahli tulang. apalagi menjadi yang terbaik di ke 3 bidang tersebut.

jadi masa masa penuh volatility adalah masa-masa emas-nya day trader, jika saya day trader, dimasa seperti inilah saya sangat aktif. sizing up, biar nampol return-nya, mumpung ombak lagi mendukung.. kita-kita yang biasa swing ya minggir dlu… ketimbang kena gocek… dan jangan merasa kehilangan kesempatan,

tidak ada kesempatan yang hilang, lah wong environment-nya memang sedang tidak mendukung untuk style yang kita anut, we should accept that sometimes there are periods less conducive to our style. maka jangan di hitung rugi waktu. koreksi adalah bagian dari market cycle, high volatility juga market cycle. santai aja.. woless. tunggu ombak yang cocok dateng lagi..

if there is a thought that you missed the opportunity, itu pikiran dangkal, short term thinking, cuma emosi.

untuk memberi contoh lain perspektif perkara longterm thinking, bayangkan anda terlibat dalam uptrend heboh sejak akhir desember 2017 hingga akhir januari 2018, as example saya terlibat di periode tersebut, dan i got my best return so far diperiode tersebut. i wipe all my losses from three years trading in one month. iya, you read it right. even better i got some good interest.

jadi tekanan untuk terus di market menurut saya tidak make sense, saat ini februari aja belum kelar, masih ada 10 bulan, santai aja. jika mencari 20-30 persen growth  per tahun, rasanya ga perlu grusa grusu saat market tidak mendukung, memaksakan terlibat saat market tidak mendukung justru punya potensi mengikis kinerja anda di awal januari. you just will make it harder or worse.

di sisi lain, saya berpikir perkara longterm thinking juga soal kemampuan delay gratification, delay gratification refers to ability to resist the temptation for an immediate reward and wait for a later reward. intinya kemampuan menunda keinginan merealisasikan reward.

sebagai contoh chart dibawah ini.

jika trader entry di area 1690, kemampuan menunda merealisasikan gain di 4 base pertama adalah manifestasi longterm thingking khususnya delay gratification, memang terlihat mudah jika merefleksikan apa yang sudah terjadi, namun jika bisa mengulang waktu dan kita entry di 1690, maka godaan untuk profit taking akan suliiitttttttt. koreksi 5 persen aja rasanya wajib profit taking.

biasanya sulit menahan diri karena we do not have a sound exit plan, alias tidak cukup confidence dengan exit method sendiri atau yang lebih sering terjadi adalah mayoritas di porfolio merah, dan anda cutloss,, lalu anda merasa perlu profit taking untuk menutup kerugian tersebut. profit taking for the sake feeling being right. dangkal bet.

selain contoh diatas, imho, rasanya bagi trader dgn mindset longterm one or couple losing trade tidak berarti apa-apa. selama risk are manageable. semua under control.. apalagi pusing karena missed trade. hal-hal seperti ini jadi pikiran pun sepertinya tidak. dan memang seharusnya tidak perlu dipusingkan. karena 2018 masih ada 10 bulan lageee dan ratusan opportunity di market. ga perlu memaksakan diri untuk terus in the game.. santai aja..

bukan untuk menasehati, tulisan ini justru sebagai cara saya untuk mengingatkan diri agar tidak terjebak dalam short term thingking trap. hemat energi anda untuk hal yang lebih bermanfaat.. seperti gambar qoute diatas ‘you cant build a longterm future on shorterm thingking’.

sekian. semoga bermanfaat.