di blog yang baru saya ikuti, farnamstreetblog by Shane Parrish ada satu tulisan yang menurut saya cukup menarik, yaitu tulisan tentang bagaimana second level thinking dapat membantu kita perform above average. selengkapnya bisa di baca disini https://www.farnamstreetblog.com/2016/04/second-level-thinking/

menurut blog tersebut, agar pengambilan keputusan dapat berhasil, hal tersebut memerlukan perhatian serius pada banyak aspek yang terpisah. lalu dituliskan juga bahwa Extraordinary performance comes from being different, walaupun tentu below average performance juga datang dari being different. maka it’s not enough to be different — you also need to be correct. this is where second level of thinking comes in.

dikatakan bahwa first level thinkinng itu sangat sederhana dan dangkal, dan hampir semua orang dapat melakukannya ( hal ini dianggap sebagai disadvantage dalam upaya perform above average). sedangkan second level thinking dianggap sangat dalam, kompleks dan rumit.

sehingga disimpulkan bahwa first-level thinkers are the people that look for things that are simple, easy, and defendable. Second-level thinkers push harder and don’t accept the first conclusion.

maka sebagai penutup Shane Parrish tanpa tendeng-aling-aling menulis bahwa Conventional thinking and behavior is safe. But it guarantees mediocrity. You need to know when your performance is likely to be improved by being unconventional.

mak jang… guarantees mediocrity.. kejam kali…

masih kurang percaya bahwa second level thinking itu penting?

ada kutipan dari Charlie Munger,  doi bilang ““It’s not supposed to be easy. Anyone who finds it easy is stupid.” boom!

menurut saya dalam trading penerapan second level thinking ini banyak digunakan oleh yang menganalisa bandarmology, karena dalam bandarmology, analisa harus dilakukan berdasarkan perspektif orang ke-3 yang menganalisa cara berpikir ‘bandar’ dan relativitas dari semua opsi yang akan dilakukan si bandar.

enaknya si dikasi contoh ya, namun berhubung saya bego, anda boleh cek twitternya embahjsx aja, saya rasa analisa beliau itu rata-rata second level thinking, karena yang dianalisa itu mulai dari probabilitas, lalu relatifvitas ampai ke psikologi market.

keren kan? mau belajar berpikir di level yang ke dua? silahkan kunjungi blog bang alianto doi nulis step nya dengan jelas disini http://www.longterm-investment.com/2017/05/pentingkah-critical-thinking/

BUT

in my humble opinion, when it comes to trading, you do not need second level of thinking, even better, you should never use it.

kenapa? sederhana aja, tujuan kita trading adalah meng-compound capital dengan menjual saham lebih tinggi dari harga beli. ya ga?

so.. if you want to sell higher, buy uptrend stock. Buy something that’s already doing what you want it to do. Going up.

matter a fact, saya pernah nulis tentang hal ini. just follow the damn herd. buy what people already buying.

just follow the fucking price.

semoga bermanfaat, terima kasih.

[sbscrbr_form]